Site Network: cuap-cuap admin | media itsar | ITSAR.web.id | Credits | Sign In | Support Us!

 

Aktivitas di bulan Ramadhan

1. Berpuasa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, artinya: "Setiap amal baik manusia akan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat." Allah Ta'ala berfirman: "(Kecuali puasa), amal ibadah ini khusus untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Karena ia telah meninggalkan syahwat makan dan minumnya karena Aku." Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika menemui Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi." (HR Al Bukhari dan Muslim)

2. Qiyamullail
Ia merupakan tradisi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat. Dalam sebuah riwayat, Nabi pernah bersabda: "Barang siapa shalat malam dibulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu." (HR.Al Bukhari dan Muslim). Aisyah Radhiallaahu 'anha pernah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat malam, dan jika sakit atau kelelahan beliau shalat dengan duduk. Qiyamullail (tarawih) di bulan Ramadhan ini sebaiknya dilakukan dengan berjamaah agar tercatat sebagai orang yang melakukan qiyamullail (secara sempurna), sebagaimana disebutkan dalam hadits, artinya: "Barang siapa yang mendirikan shalat malam bersama dengan imam sampai selesai maka dicatat baginya shalat satu malam." (HR penulis As-Sunan)
3. Bersedekah
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang sangat dermawan, terutama sekali pada bulan Ramadhan. Beliau pernah bersabda: "Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan." (HR At Tirmidzi). Bentuk sedekah dibulan suci ini ialah dengan memberi makan kepada saudara kita sesama muslim terutama sekali kepada para fakir miskin dan lebih khusus bagi mereka yang taat dalam beragama. Disebutkan bahwa Abdullah Ibnu Umar Radhiallaahuma 'anhu tidak berbuka kecuali bersama anak-anak yatim dan fakir miskin. Cara lain bersedekah di bulan Ramadhan ialah dengan memberi buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa secara umum, mengundang mereka berbuka bersama dan lain sebagainya.

4. Bersungguh-sungguh dalam membaca Al Qur'an
Dalam hal ini ada dua poin pokok yaitu:
Supaya lebih cepat atau lebih banyak dalam menghatamkannya, namun tetap harus memperhatikan kaidah bacaan yang benar. Memperbanyak bacaan Al Qur'an ketika bulan Ramadhan merupa-kan amalan Rasulullah, shahabat dan para Imam kaum muslimin.
Hal ini dapat tercapai dengan cara benar-benar meresapi, merenungkan dan memahami makna dari ayat-ayat yang kita baca sehingga akhirnya tenggelam dalam pengaruh keagungan Al-Qur'an yang menggetarkan hati. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah mengomentari para ahli shuffah (kaum Muhajirin yang tinggal di Masjid Nabawi) yang menangis karena mendengarkan Al-Qur'an surat An Najm 59-60, beliau bersabda, artinya: "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah." (HR Al Baihaqi).

5. Duduk di masjid hingga terbit matahari
Rasulullah bersabda, artinya: "Barangsiapa shalat fajar dengan ber-jama'ah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari, kemudian shalat dua raka'at baginya pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna." (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani). Pahala sebesar ini adalah pada hari-hari biasa, maka bagaimana halnya jika itu dilakukan dalam bulan Ramadhan?

6. I'tikaf (Berdiam di Masjid dalam rangka ibadah)
I'tikaf merupakan ibadah yang merangkum berbagai macam ketaatan seperti membaca Al Qur'an, shalat, dzikir, doa dan lain sebagainya. Ibadah ini sangat ditekankan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan untuk mendapat lailatul qadar. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam selalu melakukan i'tikaf pada setiap sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan pada tahun kewafatannya beliau beri'tikaf duapuluh hari. (Al Bukhari)

7. Umrah di bulan Ramadhan
Tentang umrah dibulan ini Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, artinya: "Umrah di bulan Ramadhan menyamai (pahala) haji." dalam riwayat lain, "menyamai (pahala) haji bersamaku." (HR Al Bukhari dan Muslim).

8. Berusaha meraih lailatul Qadar
Keutamaan malam ini sungguh amatlah besar, sebagaimana difirman-kan oleh Allah dalam surat Al Qadr, artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS Al Qadr 1-3) Nabi juga berusaha untuk mendapatkan lailatul qadar dan memerintahkan para shahabat dan keluarga-nya agar berusaha meraih malam itu.

9. Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar
Di antara waktu-waktu yang mus-tajab untuk dikabulkannya doa adalah:

Label:

posted by media-itsar @ 01:49, ,


Beberapa petunjuk berkenaan dengan puasa Ramadhan

  1. Seorang yang dalam keadaan junub tetap harus berniat puasa, meskipun ia mandi janabah setelah terbit fajar (Shubuh).
  2. Wanita yang suci dari haidh sebelum fajar tiba (bulan Ramadhan), maka wajib berpuasa walaupun ia mandi besar setelah terbit fajar.
  3. Seseorang yang sedang berpuasa dibolehkan mencabut gigi, mengobati luka atau menggunakan obat tetes mata/telinga.
  4. Diperbolehkan bagi yang sedang berpuasa untuk bersiwak baik diwaktu pagi maupun siang hari, bahkan itu termasuk sunnah nabi.
  5. Untuk mengurangi rasa panas dan dahaga diperbolehkan mempergunakan AC atau membasahi kepala dengan air dingin.
  6. Bagi penderita sesak nafas meskipun sedang berpuasa diperbolehkan menyemprot mulut denga sesuatu (berupa udara/gas) yang dapat melonggarkan pernafasan.
  7. Orang yang sedang berpuasa diperbolehkan membasahi bibir dengan air bila terasa kering dan juga diperbolehkan berkukmur-kumur namun dengan syarat tidak tertelan.
  8. Disunnahkan mengakhirkan sahur hingga menjelang fajar dan segera berbuka setelah matahari terbenam (Maghrib). Diutamakan berbuka dengan kurma rutab (hampir masak), jika tidak ada rutab dengan kurma masak, dan jika tidak ada bisa berbuka denga apa saja yang halal atau cukup dengan minum air apabila tidak menjumpai makanan.
  9. Orang yang sedang berpuasa sangat dianjurkan untuk memperba-nyak amalan sunnah, seperti shalat sunnah, membaca Al Qur'an, berdzikir dan bershadaqah.
  10. Bagi yang sedang berpuasa tetap diharuskan menjaga dan mengamalkan kewajiban-kewajiban yang lain serta menjauhi perbuatan-perbuatan haram. Hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dengan menjalankan tepat pada waktunya dan dengan berjamaah dimasjid bagi kaum pria.
  11. Hendaknya selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela yang dapat menghapus pahala puasa seperti: berdusta, berbuat curang, menipu, riba/rentenir, berbicara yang haram dan sebagainya.

Label:

posted by media-itsar @ 01:47, ,


FIQHU SHAUM, AL IBADAH FIL ISLAM

1.A. FIQIH SHAUM
• Pengertian puasa dalam Islam, puasa ialah suatu bentuk ‘ibadah dengan menahan diri dari makan, minum, jima’ dan hal-hal lain yang searti dengan itu, dari sejak fajar sampai maghrib, dengan niat mencari ridha Allah SWT.

• Macam-macam berpuasa :
a. Puasa wajib, yaitu :
b. Puasa haram, yaitu :
c. Puasa makruh, kecuali untuk melaksanakan puasa wajib, yaitu :
• Orang-orang yang diwajibkan puasa Ramadhan:
Bagi mereka yang tidak memenuhi syarat di atas, diatur sebagai berikut :

1. Tidak wajib sama sekali, dan tidak wajib menggantinya. Yaitu bagi yang belum Islam, belum dewasa, dan orang gila
2. Haram puasa tapi wajib menggantinya (dengan puasa lagi). Yaitu bagi wanita yang sedang haidh atau nifas
3. Boleh berbuka dan wajib menggantinya pada hari-hari lain. Yaitu bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan (al-Baqarah:184)
4. Boleh berbuka, tapi wajib bayar fidyah berupa memberi makan fakir miskin tiap satu hari satu orang, dengan kualitas makan yang biasa dimakan selama satu hari. Yaitu bagi mereka yang tidak kuat sama sekali berpuasa, seperti karena terlalu lanjut usia: al Baqarah 184
5. Boleh berbuka dengan kewajiban mengqadha atau fidyah. Yaitu bagi wanita yang sedang hamil atau menyusukan anak: al Baqarah 184

• Perbuatan-perbuatan yang menyempurnakan ‘ibadah puasa Ramadhan :
a. Melaksanakan makan sahur
“Bersahurlah kamu karena makan sahur itu ada berkahnya” (HR. Bukhari Muslim).
Makan sahur yang paling baik ialah yang hampir mendekati waktu shubuh
b. Mempercepat berbuka apabila telah tiba waktunya
“Manusia senaniasa dalam kebajikan, selama mereka cepat-cepat berbuka puasa”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berbuka yang lebih baik ialah berbuka dengan makan buah-buahan manis. Pada waktu berbuka dianjurkan untuk membaca doa.
c. Memperbanyak membaca al-Qur’an
“Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca al-Qur’an (dan mempelajari), maka kepada mereka akan diturunkan Tuhan ketenangan bathin, dilimpahi dengan rahmat.” (HR. Muslim)
d. Memperbanyak shadaqah
“Shadaqah yang paling utama ialah shadaqah pada bulan Ramadhan. Nabi termasuk orang yang banyak memberi dan menolong, lebih-lebih pada bulan Ramadhan.”
e. Shalatullail/tahajjud/tarawikh
Bisa dilakukan dengan berjama’ah atau sendiri-sendiri, boleh di masjid dan boleh di rumah atau di tempat-tempat lain.
Waktunya sesudah shalat ‘Isa sebelum waktu shubuh. Semua bacaan-bacaannya sama dengan shalat fardhu.
“Barang siapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan, dengan iman kepada Allah dan mengharapkan pahalanya, maka akan diampuni dosanya” (HR. Muslim)
f. I’tikaf
Yaitu berdiam di masjid, dengan melakukan ‘ibadah terutama pada malam 20 sampai akhir Ramadhan.
“Rasulullah saw selalu mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat” (HR. Bukhari, Muslim)
Pelaksanaannya ialah pertama-tama masuk msjid dengan shalat tahiyyatul masjid, kemudian melaksanakan ‘ibadah di dalamnya.
g. Meningkatkan ‘ibadah terutama pada malam 20 Ramadhan ke atas.
“Apabila sudah masuk sepuluh malam yang terakhir Ramadhan, maka Rasulullah sangat bersungguh-sungguh ‘ibadah dan sepanjang malam beliau beramal serta membangunkan keluarga” (HR. Bukhari dan Muslim)
h. Banyak menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan yang mengurangi nilai dan hikmat puasa.
“Banyak di antara yang berpuasa, tapi hasilnya hanya lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Huzaimah)

• Hikmah puasa
a. Manifestasi dari pernyataan iman
b. Menguasai nafsu
c. Latihan disiplin
d. Latihan ketabahan dan kesabaran
e. Perisai dari godaan-godaan hidup
f. Menanamkan perasaan kekeluargaan dan persaudaraan
g. Menanamkan perasaan kasih sayang kepada fakir miskin
h. Kesehatan, dll

• Lain-lain
a. Qadha Puasa
Untuk mengganti puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan, dapat dilaksanakan dengan berturut-turut atau terpisah-pisah. Bagi mereka yang sampai Ramadhan berikutnya masih mempunyai kewajiban qadha puasa, maka kewajiban tersebut masih dibebankan pada hari/bulan berikutnya.
b. Lailatul Qadar
Artinya malam kekuasaan atau malam kemuliaan, yaitu satu malam yang terjadi pada bulan Ramadhan dengan mempunyai keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut :

a. Malam diturunkan al-Qur’an
b. Nilai malam itu lebih tinggi daripada seribu bulan.
c. Atas izin Allah, pada malam itu Malaikat bertebaran di pelosok bumi.
d. Malam itu penuh dengan keselamatan dan kesejahteraan (QS. Al-Qadar)

1.B. FADHAIL SHAUM
Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman: Semua amal kelakuan anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa, maka itu melulu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan puasa itu sebagai perisai, maka jika seorang sedang puasa, janganlah berkata keji atau ribut-ribut, dan kalau seorang mencaci maki padanya, atau mengajak berkelahi maka hendaknya dikatakan padanya : Aku berpuasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa bagi Allah lebih harum dari bau misik (kasturi). Dan untuk orang puasa dua masa gembira, yaitu ketika akan berbuka puasa dan ketika ia menghadap kepada Tuhan akan gembira benar, menerima pahala puasa. (Bukhari, Muslim)
Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang yang berpuasa sehari saja karena Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka jarak tujuh puluh tahun. (Bukhari, Muslim)
Rasulullah saw. bersabda : Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu sorga dan ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu (dirantai) semua syaithan. (Bukhari, Muslim)

1.C. SEPULUH INDIKATOR SUKSES MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN
“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits Rasulullah tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk tidak terjerumus didalamnya. Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut.
Sepuluh indikasi sukses meraih keutamaan Ramadhan :

1. Memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban
Ibadah sunnah di bulan Sya’ban berfungsi pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperba-nyak ibadah shalat, tilawatul Qur’an sebelum Ramadhan, akan menja-dikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa.
Itulah hikmahnya kenapa Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban.
2. Memenuhi target pembacaan Al-Qur’an
Orang yang berpuasa di bulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bukan ini karena memang itulah target minimal pembacaan al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
3. Memelihara lidah
“Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidak berbicara buruk dan aib. Dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki sese-orang maka berkatalah, “Aku berpuasa.” (HR. Bukhari)
4. Menjaga pandangan dari yang haram
Puasa yang tidak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya boleh jadi puasnya secara hukum sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.
5. Menghidupkan malam dengan ibadah
Salah satu cirri khas bulan Ramadhan adalah Rasulullah menganjur-kan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.

6. Tidak makan berlebihan di saat berbuka
Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang, menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari, maka nilai pendidikan puasa akan hilang.
Puasa pada hakikatnya adalah pendidikan bagi jiwa untuk mengenda-likan diri dan menahan hawa nafsu. Hasil pendidikan itu akan tercermin dalam pribadi orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakkal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah unsur pendidi-kannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat berbuka
7. Mengoptimalkan infaq
Rasulullah saw, seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat diban-dingkan bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.
8. Memperbanyak ibadah di 10 hari terakhir
Rasulullah dan para sahabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam di dalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, sat diturunkannya al-Qur’an.
Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan, mereka mera-sakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang berguman jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.
9. Tidak bermaksiat lagi setelah Ramadhan
Jangan memandang Idul Fitri dan selanjutnya sebagai hari “merdeka” dari pejara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.
10. Memelihara kesinambungan ibadah setelah Ramadhan
Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkat untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan itu.
1.D. TINGKATAN SHAUM
Diantara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut.
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar supaya kamu bertaqwa.” (al-Baqarah:183)


Rahasia puasa dan syarat-syarat batinnya :
1. Puasa orang awam : menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat

2. Puasa orang khusus :
i. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah ‘azza wa jalla
“Pandangan adalah salah satu anak panah beracun di antara anak panah Iblis – semoga Allah melaknatinya. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatan di dalam hatinya.” (HR. al-Hakim)
ii. Menjaga lisan dari dusta, ghibah, kekejian, pertengkaran; mengendalikannya dengan diam; menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah al-Qur’an.
“Sesungguhnya puasa itu tidak lain adalah perisai: apabila salah seorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh; dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya maka hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku berpuasa.” (HR. Bukhari, Muslim)
iii. Menahan pendengaran dari mendengar setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya.
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (al-Ma’idah: 42)
iv. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa
“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)
v. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya
vi. Hendaknya setelah ifthar hatinya “tergantung” dan “terguncang” antara cemas dan harap
Puasa orang khusus adalah puasa orang-orang shalih

3. Puasa orang super khusus : puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total. Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqini dan Muqarrabin.

1.E. SHAUM-SHAUM SUNNAT
1. Puasa ‘Arafah
Rasulullah bersabda “Aku memohon kepada Allah agar puasa hari ‘Arafah menutupi kesalahan setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. (HR. Muslim)
2. Puasa ‘Asyuro dan Tasu’a
Yaitu puasa hari ke sembilan dan kesepuluh bulan Muharram.
Rasulullah bersabda “Saya memohon kepada Allah SWT agar puasa ‘Asyuro menutupi kesalahan tahun lalu dan tahun yang akan datang”. (HR. Muslim)
3. Shaum Enam Hari Pada Bulan Syawal
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan syawal maka seolah-olah dia berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim)
4. Shaum Tiga Hari Bidh (Putih)
“Apabila kamu berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada hari ke tiga belas, empat belas dan lima belas”. (HR. Turmudzi)
Penanggalan disini tentu menurut penanggalan Qomariyah (Hijriyah), sebab pada hari-hari tersebut bulan lebih jelas dan lebih terang.
5. Shaum Hari Senin dan Kamis
“Amal disetorkan pada hari Senin dan Kamis, oleh karena itu aku ingin ketika disetorkan amal-amalku aku dalam keadaan berpuasa” (HR. Muslim)
6. Shaum Sehari dan Buka Sehari
“Berpuasalah sehari dan berbuka sehari, itulah puasa Daud Alaihis Salaam dan merupakan puasa yang paling afdhol”. (HR. Bukhari)

Shaum adalah ibadah yang melatih seseorang agar mampu ikhlas dan meninggalkan sifat riya’, sebab tidak ada yang mengetahui orang yang berpuasa sunnat selain Allah. Dialah yang akan memberi pahala terhadap orang-orang yang berpuasa dengan balasan yang pantas.

Maraji’
Drs. Miftah Faridl : Pokok-Pokok Ajaran Islam
Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Annawawy, Tarjamah Riadhus Shalihin
Tarbawi edisi 15 Th 2 Ramadhan 1421
Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa, Mensucikan Jiwa : Konsep Tazkiyatun nafs Terpadu
Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah Ruhiyah : Petunjuk Praktis Mencapai Derajat Taqwa

Label:

posted by media-itsar @ 20:20, ,


GHIBAH DAN PUASA

Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.

Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW bersabda : "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka yang dipergunjingkan." (Hadits Riwayat Ahmad)

“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)

Allah S.W.T berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)


SUDAHKAH KITA MENJAGA PUASA KITA?
Rasulullah SAW bersabda : "Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)
"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat." (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah S.W.T tidak berhajat kepada puasanya." (Hadits Riwayat Bukhari)

“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar." (Hadits Riwayat Turmudzi)

Imam Al-Ghazali berkata : "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa." (Ihya' Ulumiddin)

Para Ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa." Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain." (Ihya' Ulumiddin)

Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya." (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)
Sudahkah kita menjaga puasa kita ? ……………………………………

Label:

posted by media-itsar @ 20:19, ,


MALAM SERIBU BULAN

Sungguh telah aku tutrunkan dia (Al Qur'an) dalam Lailatul Qodar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qodar. Lailatul Qodar itu lebih menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Para malaikat dan (Jibril yang menjadi Ruh), turun di malam itu atas izin Tuhan mereka (mengurai) segala (belitan) urusan. Mereka menyapa "salam" (selamat bagi semua, hamba Allah yang teguh). Malam seribu bulan itu (menebarkan berkahnya) samapai fajar menyingsingkan pijar.

Ketika datang Lailatul Qodar, Nabi sedang sujud. Bersamaan dengan datangnya, hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang pealn-pelan menggenangi tempat sujud Nabi, yang dengan lembut menyapa kulit muka beliau, sama sekali tak mengurangi keasyikan beliau menikmati prosesi malaikat yang dipimpin Jibril turun membelai dan menebar al qadar di muka bumi. Nabi yang tenggelam dalam keasyikannya.

Keasyikan berbeda yang tak ada seorang perawi pun mengisahkannya secara imajiner, dilukiskan seorang ulama sebagai yang tiada taranya. Terbukti dengan sujud Nabi yang sangat panjang, sangat lama dan tidak mempedulikan bagian gemercik air hujan yang makin lama membahasi pipi-mulia Nabi. Beliau sama sekali tidak bergeming. Tenggelam dalam keasyikan mendalam mengikuti prosesi malaikat dalam tabuh merdu segala merdu. Dlaam kidiung keselamatan membuluh perindu, yang didedangkan tak henti sampai fajar menyapa semesta. Malaikat pun menorehkan keindahan di mana-mana. Di hati pemburu Laialtul Qodar. Di hati kita. Wao! Betapa!

Kita telah melakukan ancang-ancang sejak awal Ramadhan dan nafsu selama sua puluh hari penuh telah kita latih menyabari amal yang paling membosankan sekalipun. Kita lakukan amal yang di luar Ramadhan tidak pernah kita kerjakan. Tarawih, tadarrus, dan sedekah.

Kita telah melatih hati dan nafsu kita untuk memiliki ketahanan dan daya tahan kuat demi pahala yang terhitung kelipatannya. Di antara kita bahkan ada yang sudah memulai iktikaf sejak tanggal sebelas, lalu meneruskannya dengan lebih intens hingga Ramadhan berakhir. I'tikaf adalah adalah bagian dari ibadah yang paling ringan. Hanya thenguk-thenguk, duduk diam di masjid, tanpa bacaan, tanpa menggerakkan anggota badan, bahkan terkantuk-kantuk, namun punya nilai dan berpahala.

Nabi menganjurkan kepada kita menangguk datangnya Lailatul Qodar dengan ber i'tikaf itu, dengan ibadah paling ringan itu. Agar semua kita bisa melaksanakan dan memperoleh keunggulan malam seribu bulan yang dahsyat itu, yang setiap mukmin pasti mendambakannya itu. Allah menggambarkan, Lailatul Qodar (seharusnya) menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Artinya, dia sangat diikhtiarkan sungguh-sungguh oleh setiap shaim. Dan itu tidaklah terlalu berat. Dia berada dalam satu malam pada lima malam (saja) yang dijanjikan pasti datang, yaitu pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.

Begitu menurut Nabi. Di antara kita (dari sekian Muslim yang berpuasa) telah memanjakan nafsu dan keinginan untuk lebih suka bersantai sebelum malam-malam itu menjelang. Tidur dan merenung. Setelah malam-malam itu lewat, kita berbuat sesuka nafsu keinginan kita. Sepanjang tahun. Allah dan Nabi menginginkan agar orang-orang beriman dapat menikmati pemandandan sangat indah, prosesi malaikat yang dipimpin Jibril turun ke bumi dengan gebyar warna-warni indah pelangi yang serasi. Sambil menebar janji pahala tak terhingga kelipatannya, hanya satu malam saja ditangguk oleh shaim yang berlega hati "thaharri berupaya bersungguh-sungguh "menemukannya". Sungguh.

Kita semua percaya itu, karena kita mukmin yang beriman pada yang ghaib. Prosesi malaikat Laialatul Qodar itu ghaib dan hanya bisa disaksikan dengan mata hati yang tajam, bening, dan bersih dari "roin" (cemar duniawi yang menyaput nurani karena perbuatan tak bermutu yang dilakukan sehari-hari). Selama dua puluh hari kita telah mengelap gemerlap hari kita, membersihkannya dari "roin" sehingga manakala kita berlega hati meneguhkan konsentrasi penuh mencegat iring-iringan prosesi malaikat dan Ruh di malam al-qadar itu, dengan mata hati kita yang telah bening itu, niscaya kita akan dapat menyaksikan keindahan tiada tara itu. Keindahan malam seribu bulan.

Mudah-mudahan di malam itu kita sempat menggumamkan doa : "Rabbana Inna Ka 'Afuwun Karim, Tuhibbul 'afwa fa'fu anna". "Duh Gusti, Paduka Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Paduka menyukai pengampunan, ampunkan dosa kami. " Kembalikan Gusti, perekat kebangsaan kami, perekat keindonesiaan kami. Amin.

Label:

posted by media-itsar @ 20:19, ,


Ramadhan Bulan Tarbiyah

Allah telah mewajibkan atas orang-orang beriman satu bulan penuh dalam perjalanan hidupnya selama setahun untuk bercermin melihat wajah bathinnya, membenahi diri dan orientasi hidupnya di hadapan Allah. Allah juga ingin agar kita membongkar timbunan hubbud-dunya agar terbebas dari belenggu dunia menuju akhirat dan menyibak cakrawala iman yang luas membentang.
Sebagaimana kita ketahui, bulan yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Dengan keistimewaan rahmah pada awalnya dan dibebaskan dari api neraka pada akhirnya, tiada hari di sepanjang bulan ini, melainkan dipenuhi dengan nur, maghfiroh dan ditempatkan di atas anak tangga keimanan yang paling tinggi, agar kita dapat mencapai derajat taqwa. Karena itulah umat Islam menghormati dan mengagungkan bulan Ramadhan hari demi hari, dengan harapan mereka dapat memperoleh rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka.
Rugilah orang-orang yang keluar dari bulan ini dengan tangan hampa, tanpa membawa keampunan, semangat baru dan cahaya ma`rifatullah. Rugilah orang-orang yang melewati bulan ini hanya dengan lapar dan haus saja. Dan lebih rugi lagi mereka yang tidak dikembalikan kepada fithrah, dibebaskan dosa-dosanya.
Bulan Ramadhan juga merupakan bulan penempaan diri manusia, karena dalam bulan ini kita lebih mengintensifkan untuk mentarbiyah ruhi, sekalipun terhadap hal-hal yang telah dihalalkan Allah. Dus, apalagi hal-hal yang diharamkan olehNya. Karena itu puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga seluruh panca indera kita dari hal-hal yang dilarang Allah, menjaga hati kita agar tak tersibukkan dengan memikirkan urusan-urusan duniawi saja, menjaga mata hati kita agar selalu ingat untuk berdzikir kepada Allah dan tidak dilalaikan oleh hal-hal yang dapat menjauhkan kita dariNya. Namun sebaliknya, didekatkan pada aktivitas-aktivitas yang dapat mendekatkan diri kita kepadaNya. Meluruskan kembali niat kita, bahwa segala aktivitas yang kita lakukan adalah dalam rangka mengharap ridhoNya, bukan karena lainnya. Entah itu popularitas, nama baik atau hal-hal lainnya yang dapat merusak keikhlasan kita. Sehingga amalan kita dapat diterima di sisi Allah.
Kekalahan mental (Inhizamur ruh) atau patah semangat merupakan fenomena yang sangat berbahaya dalam kehidupan `amal Islami. Penyakit ini tidak hanya mengakibatkan loyo, tak bersemangat atau apatis, tetapi juga dapat melemahkan bahkan bisa jadi melumpuhkan gerakan. Karena itu `amal Islami harus selalu tanggap terhadap kemungkinan munculnya gejala penyakit ini dan harus dapat mengantisipasinya secara cepat. Bahkan diperlukan tindakan-tindakan prefentif untuk menghindari kemunculan gejala penyakit ini dikalangan pendukung dakwah. Islam, dalam Al-Quran dan Al-Sunnah, banyak menekankan pentingnya sisi pembinaan ruhiyah bagi setiap muslim. Sebab dengan pembinaan ruhiyah yang baik, mentalitas seorang muslim menjadi kuat, potensi gerakannya berkembang pesat, aktifitasnya meningkat terus dan mampu memikul beban dan tugas-tugas dakwah secara baik. Selain itu ia dapat merasakan nikmatnya iman, zuhud terhadap dunia dan pesonanya, ikhlas dalam beramal, dan ruhaninya penuh vitalitas karena bergizi cukup. Tetapi jika seorang aktivis menelantarkan pendidikan ruhaninya dan membiarkannya tidak terbina dengan baik maka sangat mungkin ia akan terserang penyakit ruhani bahkan tidak mustahil menyebabkan terjadinya inhizamur ruh (kekalahan mental).
Karena itu dalam bulan ini Allah hendak menempa iman orang-orang yang beriman, sehingga naik ke derajat taqwa. Dan bulan Ramadhan merupakan sarana penggodokan mentalitas dan jiwa orang-orang mukmin. Sehingga diharapkan setelah Ramadhan berakhir iman kita telah diperbarui kualitasnya, dikembalikan kepada fithrahnya. Dan hal ini tentunya tak akan tercapai bila kita tidak memahami makna puasa dengan sesungguhnya. Karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah. Karena itulah Rasulullah dalam salah satu haditsnya mengatakan bohong/dusta.
Dengan terjaganya hati dan seluruh anggota tubuh kita dari hal-hal yang dilarang Allah, maka akan membuka mata hati kita untuk mengingat alam akhirat. Setelah kita memiliki qosdul akhirah (kecenderungan pada akhirat), maka akan terjauhlah dari sikap hubbud-dunya, karena keduanya tak mungkin berkoeksistensi dalam hati seorang mukmin. Dan bila seseorang sudah terpaut dengan akhirat, maka nafsu dunia menjadi kecil di hadapannya. Dengan shoum, maka nafsu akan terasa ringan/enteng. Rasulullah melukiskan betapa dekatnya jarak antara orang yang shoum dengan malaikat, sampai-sampai mereka dapat mencium bau mulutnya yang melebihi harumnya minyak wangi. Dengan demikian maka kualitas imannya akan naik ke tingkat zuhud yang merupakan anak tangga pertama ke ketinggian ruhi di sisi Allah.
Dengan memiliki sikap zuhud, akan mudahlah bagi kita untuk beramal dan berkorban di jalanNya. Orang yang bersikap zuhud tak akan mengambil dunia untuk dunia itu sendiri, tapi mengambil hanya sekedar yang diperlukan baginya. Seperti yang telah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Karena itulah, mari kita berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa. Sehingga setelah puasa berakhir, kita bisa merasakan peningkatan iman kita, dibersihkan dari dosa-dosa dan dikembalikan ke dalam fithrah.
Dalam bukunya Ihya Ulumuddin, Al-Gazali mengatakan ada 6 perkara yang perlu diperhatikan dalam kita berpuasa:

1. Menahan pandangan dan menjaga hati dari lalai mengingat Allah. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, pandangan adalah panah beracun dari iblis. Barangsiapa yang meninggalkan pandangan karena takut pada Allah, maka akan didatangkan oleh Allah kemanisan iman dalam hatinya. (dirawikan Al-Hakim dari Huzaifah dan shahih sanadnya)
2. Menjaga lidah dari perbuatan yang sia-sia dan berdusta/berbohong. Kalau menahan diri dari makanan dan minuman yang dihalalkan merupakan aspek zhohir dari shoum, maka menahan diri dari ucapan yang diperbolehkan merupakan makna shoum yang sesungguhnya. Sebagaimana dilukiskan Allah dalam QS.19:26. Ucapan Maryam seperti yang telah diabadikan Al Quran ini menunjukkan betapa beliau memahami makna shoum yang sebenarnya. Dengan tidak berbicara sama sekali, Maryam terhindar dari perkataan yang tidak berfaedah. Hal ini juga menunjukkan tingkat kemuliaan seseorang, sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah kepada Nabi Zakaria. Lihat QS. 19:7&10.
3. Mencegah pendengaran kita dari mendengar hal-hal yang dilarang Allah maupun yang bersifat makruh.
4. Mencegah anggota-anggota tubuh yang lain dari segala hal yang membawa dosa. Demikian juga makanan dan minuman yang subhat ketika berbuka.
5. Tidak berlebih-lebihan sewaktu berbuka puasa. Seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah bahwa kita berhenti makan sebelum kenyang. Maka bagaimanakah dapat memperoleh faedah puasa dan menundukkan hawa nafsu bila diperoleh oleh yang berpuasa ketika berbuka, apa yang tidak diperolehnya pada siang hari? Bahkan kadang-kadang bertambah lagi dengan berbagai macam makanan, sehingga berjalanlah kebiasaan dengan menyimpan segala macam makanan di bulan Ramadhan. Padahal puasa merupakan sarana latihan untuk bersikap pertengahan dan sederhana dalam segala hal. Karena bila perut kenyang, akan memperberat ibadah. Sebaliknya, bila makan sekedar apa yang diperlukan tubuh agar kuat beribadah, maka akan jernihlah hati dan ringan untuk mengerjakan ibadah. Sehingga dengan demikian kita berharap dapat dibuka untuk memandang alam yang tinggi. Dan malam lailatul qodar adalah malam yang terbuka padanya suatu dari alam malakut. Sebagaimana difirmankan Allah dalam QS.Al-Qadr ayat 1, yang artinya "Sesungguhnya Al-Quran kami turunkan pada malam lailatul qodar". Dan bila kita masih menjadikan antara hati dan dadanya, tempat penyimpan makanan, maka akan terhijab dari padaNya. Sedang mengosongkan perut saja belum mencukupi untuk mengangkat hijab, sebelum cita-citanya atau tujuan hidupnya kosong selain dari Allah. Dan itulah intinya. Dan pangkal dari semuanya ialah menyedikitkan makanan.
6. Sesudah berbuka, hatinya bergantung dan bergoncang antara takut dan harap, karena tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau ditolak. Dan hendaklah hal ini dilakukan pada akhir tiap-tiap ibadah yang dikerjakan. Karena itu, marilah kita berupaya agar dapat berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa, sehingga ruh keimanan kita akan naik, menjenguk alam malakut dan terbuka kerinduan pada alam akhirat. Itu sebabnya, Allah memberikan pujian kepada para Nabi-NabiNya, karena mereka selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Firman Allah dalam QS. Shod: 45-47. Artinya: "Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya*qub yang telah melakukan kerja besar dan memiliki ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka (menganugerahkan mereka akhlak yang tinggi) yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar- benar termasuk orang-orang pilihan Kami yang terbaik".

Allah juga membedakan ibadah shoum dari lainnya. Pada ibadah shoum Allah justru melarang malaikat untuk mencatat pahala ibadahnya. Kalau setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat, maka untuk shoum, kataNya: "Kecuali shoum, maka yang ini untukKu dan Aku yang membalasnya".
Allah juga memberitahukan kepada orang yang shoum tentang kelebihan yang dimilikinya. Pertama, kebahagiaan ketika menjelang berbuka, yang kedua adalah kebahagiaan ketika berjumpa dengan Sang Pencipta. Kalau bertemu dengan orang terkenal dan penting saja, kita merasa bahagia maka bagaimana halnya jika bertemu dengan Yang Maha Terkenal dan Maha Penting?
Tentu saja besar kecilnya kebahagiaan seseorang bertemu dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan sejauhmana ia mengenal Allah (ma`rifatullah) dan seberapa penting arti Allah bagi dirinya. Tentunya, semakin dalam keimanan seseorang, semakin jauh ia mengenal Allah dan semakin penting arti Allah bagi dirinya.
Demikianlah makna shoum secara ruhiyah. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mencapainya agar kita dapat termasuk dalam deretan para Ash-Shiddiqie, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari ini?
Dari segi tarbiyah jasmaniyah, dalam shoum terkandung nilai-nilai kesehatan yang telah diketahui dan belum diketahui orang. Sementara itu ilmu kedokteran masih terus berusaha untuk menangkap dan mengungkap tabir-tabir rahasia tersebut. Hal ini menunjukkan betapa Allah tau persis tentang masalah kita, yang Dia sendiri tidak memiliki keperluan terhadap hal tersebut. Kitapun baru mengetahui manfaatnya setelah ilmu kedokteran dan kesehatan mengungkapnya.
Dengan demikian shoum merupakan sarana terapi/ pengobatan bagi kesehatan jiwa dan juga badan, yang harus dilakukan dengan sepenuh hati tanpa terlebih dahulu menunggu hasil pembuktian-pembuktian medis tentang hal itu. Sementara masih banyak lagi tabir lain yang belum dapat diungkap atau ditembus. Hanya Sang Penciptalah yang mengetahui semua itu.
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa shoum tidak mengurangi bobot kekuatan fisik kaum muslimin. Hal ni dibuktikan dengan kenyataan bahwa perang Badr dan Fathu Mekkah terjadi di bulan Ramadhan.
Sebaliknya, goyahnya kaum muslimin dalam perang Uhud, bukan dikarenakan kelemahan mereka dan kekuatan ketangguhan pasukan kuffar, namun terletak pada kesalahan kaum muslimin sendiri. Penyakit hati, kaburnya tujuan, silang pendapat dalam tubuh barisan, indisipliner terhadap perintah (Rasul), kecenderungan dunia yang lebih dominan daripada akhirat lah yang menjadi biangnya. Lihat QS. 3:152.
Demikianlah pasukan muslim pulang dengan membawa kekalahan berat, setelah terlebih dahulu syetan berhasil menggoyahkan hati mereka. Tertipu oleh dunia dan juga oleh jumlah pasukan mereka yang banyak. Lihat QS.9:25-26.
Allah tidak akan menurunkan pasukan malaikatNya kepada kelompok yang merasa bangga dengan banyaknya jumlah mereka dan menganggap kemenangan pasti berada di pihak mereka. Terbukti kemudian mereka merasa sempit dan berhasil dipukul mundur oleh musuh-musuh mereka.
Setelah orang-orang mukmin masih setia kepada Rasul yang segera menyerukan, "Aku ini Rosul Allah, tidak berdusta. Aku anak cucu Abdul Muthalib", barulah Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman berupa bala tentara yang tidak mereka lihat.
Namun sayang, saat ini kita menyaksikan hal yang berbeda. Shoum menurunkan produktivitas seseorang. Baik dia bekerja sebagai kuli, petani atau pedagang. Bahkan pekerjaan-pekerjaan tersebut dijadikan alasan untuk meninggalkan shoum. Padahal kalau shoum memang melemahkan kekuatan fisik manusia, tentu Allah tidak akan mensyariatkannya, dan pasti orang-orang beriman dahulu tidak akan sanggup bertempur pada hari Badr dan pada saat Fathu Mekkah yang semuanya berlangsung di bulan Ramadhan. Semuanya ini dikarenakan kurangnya iman, kerancuan berpikir, dominasi dunia dalam hati (hubbud-dunya) dan dominasi syetan dalam mengikis sisa-sisa iman orang-orang mukmin.
Nah, marilah kita sambut bulan Ramadhan dengan sepenuh hati. Kita jaga seluruh jiwa kita, hati dan panca indera serta anggota tubuh lain dari hal-hal yang dapat merusak nilai-nilai ibadah shoum kita. Hari-harinya kita penuhi dengan pembacaan dan mentadabburi Al-Quran, serta berusaha mengamalkan isinya. Marilah kita sambut bulan penuh rahmah ini. Kita hadapkan hati dan pikiran pada Allah, sehingga kita keluar dari bulan ini dengan membawa ampunan dari Allah, dikembalikan kepada fitrah. Dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan ! Semoga !

Label:

posted by media-itsar @ 20:15, ,


SEJARAH RAMADHAN

  1. Ramadhan: artinya panas terik
  2. Bulan diturunkan Al-Quran dan disebut (syahru ramadhana)
  3. Terjadinya perang Badar Kubra dan mendapat kemenangan.
  4. Bulan dimana nabi mengambil alih Mekah dari tangan Musyrikin dan berakhirnya penyembahan berhala.
  5. Didalamnya dipilih ada malam al-qadar yakni lebih baik daripada 1000 bulan.
  6. Dipilih untuk ibadat puasa.
  7. Dipilih untuk ibadat-ibadah lain (tadarus Al Quran)
KELEBIHAN BULAN RAMADHAN
  1. Kamu akan di naungi Ramadhan. (bagi yang telah meninggal dunia terlepas dr siksa kubur)
  2. Bulan penuh keberatan
  3. Di malamnya ada lebih baik daripada 1000 bulan
  4. Amal sunat sama dengan solat fardhu
  5. Manakala solat fardhu mendapat 70 kali lipat ganda
  6. Bulan sabar dan pahalanya adalah syurga
  7. Bulan menambah rezeki
  8. Memberi buka puasa banyak pahala
  9. Bulan ampunan - doa yang paling makbul iaitu doa sebelum berbuka puasa. - juga doa pada sepertiga malam.
  10. 10 hari pertama adalah mulanya rahmat, 10 hari pertengahan - pengampunan, 10 hari terakhir - kemerdekaan api neraka.

AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADHAN
  1. Mengucapkan Selamat Menyambut Bulan Ramadhan
  2. Menyiapkan pakaian untuk Ramadhan[untuk solat]
  3. Niat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan[dikawatirkan ada hari yang terlewat tanpa niat]
  4. Hendak tidur bacalah 4 ayat terakhir Surah Al Kahfi supaya dapat bangun malam
  5. Berazam melakukan Terawih
  6. Bertadarus secara bersemak (bukan sendirian)
  7. Solat berjemaah setiap waktu
  8. Solat jemaah di masjid/surau
  9. Amalkan Qiyamulail walaupun pendek
  10. Sahur diwaktu akhir
  11. Sahur - untuk mengelakkan pada siang tdk terlalu payah, elakkan makanan pedas dan tutup sahur dengan air susu
  12. Mandi Janabat sebelum Imsak
  13. Kurangi tidur
  14. Tunaikan Solat sunat fajar (Solat Sunat Subuh)
  15. Tunaikan Solat Dhuha
  16. Tidur waktu luang (satu jam sebelum Zohor)
  17. Tunaikan solat Rawatib
  18. Jaga pancaindera
  19. Elakkan gosok gigi pada waktu petang
  20. Hadiri majlis ilmu
  21. Berbuat baik pada ibubapa
  22. Isteri hendaklah taat pada suami
  23. Banyakkan bersedekah
  24. Berbuka dengan 3 biji kurma dan air yang belum dipanaskan oleh api
  25. Berbuka bersama orang tua
  26. Undang tamu berbuka
  27. Kurangi berat badan
  28. Banyakkan i'tikaf di masjid (lelaki saja)
  29. Perbaiki hubungan suami isteri
  30. Perbaiki hubungan dengan tetangga
  31. Isteri jauhi dari keluar memakai makeup dan perhiasan
  32. Elakkan berbelanja berlebihan
  33. Kuatkan kesabaran
  34. Banyakkan selawat, istighfar, bertasbih
  35. Berazam beramal (pada malam Lailatul Qadar)
  36. Membangunkan anak dan isteri di mlm Lailatul Qadar
  37. Elakkan menonton TV yang mengandung nafsu
  38. Elakkan mendengar radio berunsur hiburan
  39. Berdoa dengan nada lembut dan khusu'
  40. Jauhkan bercumbu dengan suami/isteri siang hari
  41. Mendoakan ibu bapa baik yang hidup atau yang meninggal dunia
  42. Melazimkan solat tepat waktu
  43. Elakkan sebelum berbuka berjalan jalan yang menjadikan pandangan liar
  44. 44) Elakkan banyak berhutang
  45. 45) Melepaskan perasaan sedih melepaskan Ramadhan ditakuti tidak bertemu lagi dengan Ramadhan akan datang
  46. 46) Tunaikan zakat fitrah

CARA BERAMAL DI MALAM LAILATUL QADAR (Malam 21-30):
1) Kepada Orang Tua Lemah
Cara beramal solat Maghrib, Isyak dan Tarawih berjemaah di masjid/surau, ini sudah dikira beramal Al Qadar
2) Orang yang tidak sanggup solat malam yang panjang
- Baca ayat akhir surah Al Baqarah
- Baca ayat Kursi
- Baca surah Yaasin
- Baca surah Al Zalazah
- Baca surah Al Qafirun
- Baca surah Al Ikhlas
3) Bagi orang yang kuat dan cergas
- Bangunkan isteri dan anak
- Mandi
- Solat malam - Tahajjud, Taubat, Tasbih, Hajat, Istikharah, dan baca Al-Quran

NUZUL Al QURAN ( 17 Ramadhan ):
- Tanggal turunnya Al Quran
- Beramallah di malamnya dengan solat malam dan amal2 yang baik

CARA MENYAMBUT HARI RAYA
- Jangan sekali-kali di sambut dengan hiburan, mercon, pesta lampu dan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan
- Pada petang akhir Ramadhan orang-orang yang meninggal menangis karena peluang untuk berehat telah berakhir. Adalah dianjurkan keluarga menziarahi kubur pada petang akhir Ramadhan atau jika kuburnya jauh, hendaklah Dibaca doa Tahlil selepas solat Asar. Semoga mereka diampuni.
- Ibnu Abbas r. a pernah mengatakan bahwa roh orang yang meninggal dunia dibenarkan pulang ke rumah anak-anaknya dan berdiri di pintu rumah memohon belas kasihan dari anak-anak mengirimkan bacaan doa, sekurang-kurangnya Al Fatihah sekali untuk mereka
- Oleh karena itu janganlah terlalu gembira dan ingatlah orang-orang tua yang sudah meninggal, semoga nanti sampai giliran kita maka anak-anak akan ingat kepada kita.

TAKBIR DI MALAM HARI RAYA
Takbir sebenarnya mempunyai cerita. Menurut riwayat, bermula dari peperangan Ahzab. Peperangan terjadi di musim dingin, kemudian Salman Al Farisi menganjurkan supaya di gali parit (Khandak) di akhirnya peperangan ini diberi pertolongan oleh Allah dan kemudian direkamkan di dalam Takbir.

Kesimpulannya, Bulan Ramadhan datang setahun sekali dan ia sebaik2 bulan, penuh keberkatan, pengajaran, mendidik mempunyai ketahanan dan penuh dengan amalan2 untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hubungan sesama manusia. Oleh karena itu bersiap sedialah dari awal supaya benar2 mengubah sikap yang baik dan seterusnya menjadi insan yang soleh/solehah. Semoga dipertemukan di Ramadhan yang akan datang.

Do’a untuk menghilangkan panas badan/masuk angin, maklumlah waktu lapar memang mudah masuk angin... . Rujuk pada Surah Al-Anbiyak ayat ke 69. Sebelum minum baca doa dan tiupkan pada air (untuk diri sendiri, anak, istri, suami dll). Insyaallah, coba amalkan.

Label:

posted by media-itsar @ 20:11, ,